Rabu, 04 Februari 2015

sistem pengapian



A.    DASAR TEORI SISTEM PENGAPIAN


Sistem pengapian adalah suatu system dalam kendaraan bermotor terutama dengan bahan bakar gasoline (Bensin) yang berfungsi untuk membakar campuran Bahan Bakar dan Udara saat piston pada akhir langkah kompresi.

Jenis Jenis Sistem Pengapian
  1. Sistem Pengapian Konvensional
  2. Sistem Pengapian Elektronik (Transistor)
  3. Sistem Pengapian Komputer (ECU)

1.      Pengertian Sistem Pengapian
Komponen – Komponen Sistem Pengapian :
·  Baterai
·  Ignition Coil
·  Distributor
·  Kontak Braker (Platina)
·  Kabel tegangan tinggi
·  Busi

2.      Fungsi Komponen Sistem Pengapian
Ø  Baterai


Fungsi baterai pada system pengapian adalah menyediakan sumber tegangan untuk mensuplay tegangan yang digunakan untuk menyalakan bunga api pada busi
Ø  Ignition Coil


Berfungsi untuk menaikkan tegangan dari sumber tegangan (baterai) dari 12 volt menjadi 20 Kilo volt melalui induksi medan magnet

Ø  Distributor


Berfungsi untuk membagikan tegangan tinggi dari ignition coil ke busi-busi sesuai dengan firing order

Ø  Kabel tengangan tinggi (high tension cords)


Berfungsi menyalurkan tegangan tinggi dari distributor ke busi-busi


Ø  Platina (Kontak Breaker)
Berfungsi untuk memutus dan menghubungkan arus listrik dari baterai ke primer coil agar terjadi induksi tegangan tinggi pada ignition coil. Karena apabila arus listrik dari baterai tidak ada kontak platina hanya akan terjadi medan magnet biasa pada kumparan primer coil. Karena prinsip kerja ignition coil sama dengan prinsip kerja pada transformator yaitu harus dialiri arus bolak bvalik untuk menaikkan tengangan . sedangkan dari baterai menghasilkan arus listrik searah (DC) sehingga perlu adanya platina untuk memutus dan menghubungkan arus listrik ke primer coil agar menyerupaai arus listrik bolak vbalik sehingga dapat terjadi induksi tegangan tinggi npada sekunder coil ignition coil


Ø  Busi

Busi berfungsi untuk memercikkan bunga api untuk membakar campuran udara dan bahan bakar pada saat akhir langkah kompresi

Ø  Kondenser (Kondensator)
Kondensator adalah suatu komponen yang berfungsi untuk menyimpan arus sementara saat kontak platina membuka agar tidak terjadi loncatan bunga api pada celah platina saat platina membuka.                                                                                            

3.      Cara Kerja Sistem Pengapian

Apabila kunci kontak pada posisi IG atau Start Aliran listrik dari sumber tegangan atau baterai menuju ke primer coil dan ke platina


Ø  Apabila kontak platina menutup


Maka aliran dari baterai ke primer koil ke kontak platina ke massa, jadi tidak ada induksi medan magnet pada ignition coil

Ø  Apabila kontak platina membuka


Maka aliran listrik dari baterai ke primer coil akan menghasilkan tegangan tinggi dan selanjutnya dikirim ke rotor distributor untuk dibagikan ke masing masing busi sesuai urutan firing order.

B.     PELAKSANAAN SERVIS SISTEM PENGAPIAN
Prosedur Pemeliharaan dan Perbaikan Sistem Pengapian
Komponen-komponen pengapian otomotif itu komplek dan seringkali rapuh, karenanya selalu berhati-hati pada waktu melakukan prosedur servis. Gagal dalam menjalankan pedoman servis dapat mengakibatkan kerusakan sistem yang sangat merugikan.
Peringatan :
Beberapa macam servis mengharuskan sistem pengapian energi tinggi dan sistem pengisian bahan bakar tidak diaktifkan. Amati prosedur yang dianjurkan berikut.
Penanganan yang tidak tepat dapat mengakibatkan :
Ø  Kecelakaan atau kematian
Ø  Kebakaran kendaraan
Ø  Kerusakan engine
Ø  Kerusakan komponen elektronik.
Bila kendaraan mempunyai sistem bahan bakar elektronik komputernya mempunyai memori yang memuat informasi diagnosa dalam bentuk kode. Melepaskan hubungan terminal baterai dapat menghapus kode tsb. Bila system bahan bakar rusak, pastikan kerusakannya dengan menggunakan kode sebelum melepaskan baterai mobil.
·  Memori dapat disusun kembali setelah beberapa urutan menghidupkan mobill.
·  Pelepasan baterai dapat mempengaruhi jam, radio dan memory.
Catatan :
·  Perangkat pengaman memori tersedia.
·  Untuk lengkapnya, baca lebih rinci manual servis rutin dari pabrik.

Pemeriksaan Pendahuluan Sistem Pengapian
Untuk setiap kesalahan pengapian pemeriksaan visual pendahuluan harus dilakukan dahulu sebelum melakukan prosedur diagnosa kerusakan yang lebih luas.

  • Periksalah semua pemasangan kawat listrik bila terbakar, isolasinya rusak atau terminal-terminalnya longgar.
  • Periksalah kabel bertegangan tinggi bila terbakar atau isolasinya rusak dan terminal-terminalnya berkarat.
  • Periksalah koil pengapian bila rusak atau olinya bocor.
  • Periksalah distributornya bila sekrup-sekrupnya, kontak-kontaknya longgar, generator sinyal rusak atau porosnya aus.
  • Periksalah tutup distributor dan rotor bila retak, korosi atau elektroda-elektrodanya terbakar.
  • Periksalah busi bila isolasinya rusak atau ada tanda-tanda korslet.

Unjuk Kerja Sistem Pengapian
Engine modern dengan pembatasan emisi cenderung bekerja dengan menggunakan campuran yang tipis dan perbandingan kompresi yang ringan. Bahkan dengan rancangan engine yang sedemikian rupa dirancang untuk menghasilkan campuran udara dan bahan bakar yagn mencukupi campuran tipis tersebut kadang-kadang sulit terbakar. Juga tingkat emisi yang rendah telah menempatkan saat percikan (spark timing) pada posisi yang sangat penting.
Sistem pengapian harus bekerja dengan baik untuk mencegah:
·  unjuk kerja engine/kendaraan rendah
·  terjadinya pemborosan bahan bakar
·  tingkat emisi tinggi

Peringatan : Sistem pengapian energi tinggi dapat menyebabkan kejutan listrik yang fatal.

Oleh sebab pengetesan koil-koil pengapian energi tinggi yang menggunakan alat-alat test sangat berbahaya, dan karenanya kabel-kabel tegangan tinggi rangkaian terbuka menyebabkan komponen-komponen elektronik tidak bekerja, maka suatu cara pengetesan kinerja system pengapian telah dikembangkan dengan menggunakan ‘penguji busi’. Busi test hanyalah sebuah busi dengan celah yang sangat lebar (max. 13 mm) dan penjepit massa untuk pengaman (secure grounding)
Coil system yang akan ditest hanya dihubungkan ke busi melalui kabel bertegangan tinggi. Busi dihubungkan ke ground (massa). Anda sekarang dapat menghidupkan engine dengan aman. Coil pengapian dan system yang baik harus dengan mudah dapat melompati celah tanpa gagal.

Catatan : Menghubungkan busi test hanya dapat dilakukan bila pengapiannya dimatikan.

Penyebab-penyebab yang memungkinkan system pengapian gagal bekerja.
  1. Percikan energi yang kecil atau tidak terjadi pada satu atau lebih busi :
·  Celah yang tidak pas, busi yang rusak atau kotor.
·  Resistansi yang tinggi atau isolasi pada kabel-kabel tegangan tinggi rusak.
·  Isolasi coil pengapian rusak/pecah.
·  Tutup distributor atau isolasi rotor pecah atau elektrodanya terbakar.
·  Lilitan sekunder coil pengapian rusak.

  1. Tidak adanya Kontrol arus atau suplai tegangan primer :
·  Sekring pengapian berbunyi
·  Komponen-komponen atau lilitan rangkaian primer rusak atau resistansi tinggi (saklar pengapian, resitor ballast, dsb.)
·  Lilitan-lilitan primer coil pengapian rusak.
·  Kontak-kontak pengapian terbakar atau dipasang tidak tepat.
·  Kondensor pengapian rusak.
·  Lilitan primer grounded.
·  Unit kontrol pengapian elektronik gagal bekerja.
·  Generator sinyal rusak.

  1. Saat Pengapian Gagal :
·  Pengaturan timing yang tidak tepat.
·  Kontak-kontak pengapian dipasang tidak tepat.
·  Unit advance vacuum rusak.
·  Mekanisme advance mekanik rusak.
·  Unit kontrol pengapian elektronik tidak berfungsi.
·  Generator sinyal tidak berfungsi.
·  Pengapian awal dikarenakan busi-busi, engine atau system kendali emisi rusak.

Alat – alat pengetesan
Alat - alat pengetesan yang telah diseleksi dan menggambarkan secara singkat aspek-aspek pengoperasian engine yang bervariasi yang dapat dicek.
Ø  Voltmeter dan Ampermeter
Voltmeter dan Ampermeter digunakan dengan cara yang biasa menentukan : Tegangan kerja system dan penurunan tegangan. Mengidentifikasi status sinyal, misalnya AC, DC atau pulsa DC. Status sinyal input dan output dari unit pengendali system pengapian. Arus yang mengalir pada rangkaian dan komponen.
Meter yang disatukan pada analyzer mungkin memerlukan pemilihan fungsi yang berbeda untuk memungkinkannya bekerja secara terpisah dari fungsi analyzer. Ampermeter analyzer umumnya menggunakan jenis pick-up induktif yang dihubungkan ke rangkaian kendaraan

Ø  Multimeter Digital
Multimeter digital disarankan oleh pabrik pembuat komponen dan kendaraan untuk digunakan pada rangkaian dan peralatan elektronik. Volt, amper dan ohmmeter digunakan untuk menguji kondisi rangkaian, nilai dan keterpakaian komponen. Fungsi multimeter digital lainnya seperti pemeriksa dioda dan frekuensi meter dapat digunakan untuk mendiagnosa system pengapian dan keterpakaian komponen.
Fungsi frekuensi mampu mengukur :
·  Ketersediaan output generator sinyal.
·  Frekuensi output generator sinyal dibandingkan dengan variable lain yang sudah diketahui seperti putaran mesin.
·  Input dan output dari unit pengendali system pengapian elektronik.


Fungsi penguji dioda dapat digunakan untuk memeriksa keterpakaian :
·  Dioda pelindung Kejutan Listrik pada system.
·  Dioda operasi system.
·  Keterpakaian transistor daya.
·  Kontinuitas rangkaian.
Ø  Dwell Meter
Pengertian sudut dwell mengacu pada sudut permutaran distributor selama kontak point tertutup. Sudut dwell harus diatur dengan benar sesuai spesifikasi pabrik, kalau tidak kerja system akan terganggu. Jika sudut dwell terlalu kecil (celah kontak point terlalu besar) koil pengapian mungkin tidak mendapat cukup waktu untuk membangkitkan medan magnit, yang akan menghasilkan tegangan sekunder yang lemah. Jika sudut dwell terlalu besar ( celah kontak point terlalu kecil ) tegangan induksi primeir akan melompat diantara celah kontak point, bukannya mengisi kapasitor, collapsenya medan magnet pada coil menjadi lambat yang akan mengakibatkan tegangan scunder menjadi rendah.
Keausan poros distributor atau mekanisme advancer dapat diidentifikasi dengan cara menaikkan putaran mesin atau memberikan kevacuuman yang berbeda pada unit vacuum dan mencatat variasi sudut dwell yang terbaca. Distributor yang memiliki perbedaan lebih dari 20 perlu diperbaiki.
Pengoperasian Meter

Sambungan meter listrik biasanya ke terminal negatif coil pengapian dan massa. Skala arus harus dipilih sesuai jenis dan jumlah silinder. Hidupkan engine dan perhatikan pembacaan meter. Bila diperlukan stel celah kontak point. Periksa kembali pembacaan dwell meter.

Catatan :
·  Selalu ikuti petunjuk penggunaan bila menggunakan dwell meter dimana sambungan setiap meter dapat berbeda pada berbagai engine.
·  Sudut dwell pada system pengapian elektronik sudah tertentu dan tidak dapat distel.
Ø  Timing Light
Timing light digunakan untuk memeriksa dan menyetel saat pengapian sesuai dengan sudut putar poros engkol dimana secara langsung berhubungan dengan posisi piston Begitu saat pengapian disetel, selanjutnya akan dikendalikan oleh system pengatur pegapian mekanik, vacuum atau elektronik. Timing light yang digunakan bersamaan dengan meter pengatur pengapian memastikan system pemajuan pengapian bekerja sesuai dengan spesifikasi pabrik.


Pengetesan Komponen Sistem Pengapian
Ø  Coil Pengapian
a.       Pengecekan Lilitan Primer
Pemeriksaan resistensi harus dilakukan utnuk mengetes lilitan primeir. Untuk mengetes lilitan primeir, baca ohm meter dengan menggunakan AVO METER, hubungkan pada kedua terminal primeir, dan bacaannya secara akurat dicatat Bacaan tersebut harus cocok dengan spesifikasi pabrik.
Contoh:
Koil 12V – 2,5 sampai 3 Ohm
Koil Ballast – 1,5 sampai 2 Ohm
Koil Hei – 0,8 sampai 1 Ohm.

Bacaan yang benar akan menunjukkan bahwa baik rangkaian dan faktanya tidak ada yang korslet.
b.      Coil Lilitan Sekunder
Untuk mengetes lilitan sekunder maka test resistansi harus dilakukan pada lilitan sekunder. Ohmmeter (Diatur pada salah satu rentang yang tinggi) dihubungkan diantara outlet tegangan tinggi dan salah satu dari terminal primer. Pabrik menentukan rentang resistansi dimana nilai sekundernya berada pengaturan umum dari nilai-nilai tersebut berada diantara 9.000 dan 12.000 ohm.

Bacaan yang benar pada rentang yang telah ditetapkan akan menunjukkan baik rangkaian yang lengkap dengan hubungan yang baik pada lilitan primer, maupun lilitan-lilitan tidak korslet bersamaan.
c.       Pengecekan Massa Isolasi
Untuk mengecek kesalahan pemassaan satu seri test lamp (lampu pengetes) dihubungkan diantara satu dari terminal primer dan wadah logam coil. Lampunya tidak boleh menyala. Bila menyala, coilnya rusak dan harus diganti.
d.      Pengujian Output
Test out put scunder harus juga diterapkan pada coil menghubungkannya pada mesin pengetes yang dapat menghasilkan arus yang terganggu. Dengan menghubungkan outlet tegangan tinggi koil ke celah percikan bunga api yang berubah-ubah, ‘ukuran’ maksimum percikan bunga api (atau enerji yang tersedia) yang dapat diproduksi, dapat diukur. Hal tersebut harus dibandingkan dengan coil yang baru, lebih kurang 13 mm.


Catatan : Pengujian ini harus dilakukan pada temperatur kerja koil.
Catatan penting : Alat uji coil pengapian berdaya tinggi.
Alat uji output coil pengapian tidak boleh digunakan untuk menguji coil pengapian yang berenerji tinggi yang dirancang untuk system pengapian elektronik

Ø  Kondensor Pengapian
Ada tiga pengujian yang harus dilakukan terhadap kondensor :
·  Kebocoran, untuk memastikan arus tidak bocor melalui bahan penyekat dielektrik.
·  Kapasitas, untuk memeriksa keadaan plat untuk memastikan kondensor mempunyai kapasitas untuk menyimpan semua enerji listrik.
·  Resistansi seri, untuk memeriksa sambungan kabel kondensor ke plat.
Alat ukur condensor otomotif harus digunakan sesuai dengan kondisi aslinya, menyediakan tegangan dan siklus pengisian yang mensimulasikan kerjanya pada engine

Ø  Kontak Point
Kontak point pengapian memerlukan perawatan yang tinggi dan penting dalam system pengapian, jika ada keragu-raguan pada kontak point segeralah ganti.

a.       Periksa permukaan kontak point, warna abu-abu menujukkan pemakaian normal, permukaan yang berwarna biru tua terbakar menunjukka salah satu dari :
·  Celah terlalu kecil
·  Kondensor rusak
·  Lilitan koil rusak

b.      Pemeriksaan lainnya :
·  Kekuatan pegas.
·  Kabel listrik dan sambungan.
·  Celah kontak point.
·  Keausan poros cam distriburtor.

Ø  Ballast Resistor
Ballast resistor diperiksa dengan menggunakan ohmmeter, dua kali yaitu saat engine masih dingin dan pada temperatur kerja.

Gunakan spesifikasi pabrik saat menguji keterpakaian ballast resistor.


Ø  Kabel Tegangan Tinggi dan Tutup Distributor
Resistansi kabel tegangan tinggi dan tutup distributor diperiksa dengan menggunakan ohmmeter.

Rentang nilai resistansi kabel tegangan tinggi biasanya berkisar antara 10 – 25 K ohm, tergantung panjangnya.
Kabel yang diidentifikasi mempunyai resitansi tinggi harus dilepas dari distributor. Terminalnya harus dilepas, periksa dan uji kembali jika terdapat permasalahan karat. Tutup distributor harus diperiksa secara visual untuk mengetahui keretakan, terminal yang berkarat atau rusak.


Ø  Kapasitor
Penguji kapasitor harus digunakan untuk menentukan :
·  Kapasitas kapasitor
·  Resistansi atau kebocoran insulator
·  Resistansi seri
·  Hubungan singkat atau ke massa
·  Hubungan singkat internal rangkaian.

Untuk mengecek kapasitor dengan pengujian :
·  Hubungkan salah satu kabel alat uji ke kabel kapasitor
·  Hubungkan ujung lainnya ke badan kapasitor.
·  Hidupkan alat uji.
·  Putar tombol penguji ke arah ‘ capacity’
·  Perhatikan pembacaan alat ukur dan bandingkan dengan spesififkasi pabrik.
·  Putar tombol penguji ke arah ‘leakage’.
·  Perhatikan pembacaan alat ukur. Penunjukan jarum harus di luar garis merah.
·  Putar tombol penguji ke arah ‘series resistance’.
·  Perhatikan pembacaan alat ukur. Penunjukan jarum harus di dalam garis merah.

Catatan :
Hubungan singkat ke massa atau hubungan singkat di dalam rangkaian akan terdeteksi dengan salah satu pengujian ini. Kapasitor dapat diuji dengan menggunakan alat uji osiloskop.

sistem pengisian pada mobil



A.    DASAR TEORI SISTEM PENGISIAN
1.      Sirkuit Sistem Pengisian
2.      Komponen Sistem Pengisian
a.       Baterai
Baterai berfungsi untuk menyimpan arus saat mesin menyala. Dan menjadi sumber tegangan untuk membuat rotor coil pada alternator menjadi megnet saat mesin akan dinyalakan.
b.      Kunci Kontak
https://encrypted-tbn2.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcQi0_0BqGY5TxnXQAF6TqN1zlKsEcNUQIR2aLKlMcs3ltd1AmY0
Kunci kontak berfungsi untuk menghubungkan dan memutuskan aliran arus listrik ke system berikutnya (system pengisian).
c.       Fuse (Sekering)
Sebagai pengaman jika terjadi kelebihan arus pada system pengisian / jika terjadinya korsleting (hubungan pendek arus listrik).
d.      Voltage Regulator
Komponen ini adalah komponen yang berfungsi mengatur output tegangan dari alternator agar tetap stabil pada putaran mesin yang berbeda – beda.
e.       Alternator
Alternator adalah komponen system pengisian yang berfungsi untuk pembangkit listrik berdasarkan putaran mesin. Komponen ini adalah komponen yang dapat mengubah putaran mesin menjadi energy listrik berdasarkan prinsip kerja generator.
Komponen – Komponen Alternator :
·  Pulley
Berfungsi untuk menerima putaran mesin melalui sabuk belt (v- belt).
·  Fan (Kipas)
Berfungsi untuk mendinginkan stator pada alternator yang panas saat mesin menyala terus menerus.
·  Stator
Berfungsi untuk membangkitkan arus listrik bolak balik / AC (Alternating Current).
·  Rotor
Berfungsi untuk membangkitkan medan magnet dengan prinsip elektromagnet.
·  Diode (Rectifier)
Berfungsi untuk menyearahkan arus bolak – balik (AC) menjadi arus searah (DC).
·  Brush (Sikat)
Berfungsi untuk menghubungkan arus listrik dari voltage regulator ke slip ring dan menghubungkan slip ring satunya ke massa.
·  Slip Ring
Berfungsi untuk menerima arus listrik dari brush dan menyalurkannya ke stator coil dan memassakan stator dengan melewati brush satunya.
·  Lampu Indikator Pengisian
Lampu ini berfungsi sebagai tanda kepada pengemudi jika system pengisian tidak bekerja.

3.      Cara Kerja Sistem Pengisian Konvensional :
a.       Saat Kunci Kontak “ON” Mesin Belum Menyala

Aliran Arus Saat Kunci Kontak “ON” mesin belum menyala :
·  Arus yang ke stator coil
Terminal + baterai → Fusible Link → Kunci Kontak → Fuse → Terminal IG Voltage Regulator → Kontak PL1 → Kontak PLO → Terminal F Voltage Regulator → Terminal F Alternator → Brush → Slip Ring → Rotor Coil → Slip Ring → Brush → Terminal E Alternator → Massa.
Dengan kondisi ini maka rotor coil akan penuh menjadi magnet dan jika rotor berputar maka stator coil akan menghasilkan arus listrik yang besar.
·  Arus yang ke lampu indicator
Terminal + baterai → Fusible Link → Kunci Kontak → Fuse → Lampu Indikator → Terminal L Regulator → Kontak P0 → Kontak P1 → Massa.
Dengan kondisi ini maka lampu indicator terhubung dengan massa karena terjadi kontak antara kontak P0 dengan P1

b.      Saat Mesin Menyala Kecepatan Rendah ke Kecepatan Sedang

·  Aliran Arus Saat Putaran Mesin Rendah Ke Sedang
Saat mesin sudah menyala maka terminal N alternator menghasilkan arus listrik yang akan mengaktifkan voltage relay pada voltage regulator. Sehingga kontak Po akan ditarik dan terhubung dengan kontak P2. Pada kondisi ini kontak Po memisahkan diri dari P1 sehingga Lampu Indikator tidak terhubung dengan massa. Pada kondisi ini maka lampu indicator akan mati.
Saat kondisi ini terminal B alternator juga sudah menghasilkan arus listrik dan saat kontak Po Terhubung dengan Kontak P2 maka voltage regulator relay pada voltage regulator akan aktif dan menarik kontak Plo sehingga berada mengambang antara kontak PL1 dan PL2.
Pada kondisi ini Arus Listrik dari terminal IG Voltage Regulator akan melalui resistor sebelum mencapai terminal F Regulator. Sehingga arus listrik yang mengalir ke terminal F akan lebih sedikit dan membuat kemagnetan pada rotor coil akan berkurang. Kondisi inilah yang menyebabkan output pengisian dari kecepatan Rendah ke kecepatan sedang tetap stabil.

c.       Saat Mesin Kecepatan Tinggi

·  Aliran Arus Saat Kecepatan Sedang Ke Tinggi
Saat putaran mesin tinggi maka output tegangan terminal B Alternator juga besar sehingga menyebabkan kemagnetan pada voltage regulator relay pada voltage regulator menjadi kuat sehingga mampu menarik dan menghubungkan terminal PLo dengan Terminal PL2. Sehingga arus listrik dari terminal IG yang ke terminal F akan langsung di massa-kan oleh kontak PL2 sehingga arus listrik yang mengalir ke rotor coil akan terputus – putus dan kemagnetan rotor coil juga terputus – putus. Sehingga meski pada putaran tinggi output alternator untuk pengisian baterai akan tetap stabil.

B.     PELAKSANAAN SERVIS SISTEM PENGISIAN
Ø  Perawatan dan Perbaikan Alternator 
a.       Periksa Continuitas Open Circuit Rotor Coil

Periksa hubungan terbuka rotor coil, jika ada hubungan (Baik), jika tidak ada hubungan (Putus)
b.      Periksa Continuitas Massa Rotor Coil

Periksa hubungan massa dari rotor coil, jika ada hubungan (Bocor), jika tidak ada hubungan (Baik)
c.       Periksa Diameter Slip Ring

Periksa diameter slipring dari keausan akibat gesekan dengan brush, Diameter standart dari slipring tergantung dari sfesifikasi pabrik, jika sudah aus (Ganti baru)
d.      Periksa Continuitas Open Circuit Stator Coil

Periksa hubungan terbuka stator coil, jika ada hubungan (Baik), jika tidak ada hubungan (Putus)
e.       Periksa Continuitas Massa Stator Coil

Periksa stator coil hubungan massa, jika ada hubungan (Bocor), jika tida ada hubungan (Baik)
f.       Periksa Continuitas Dioda (+) dan Dioda (-)

Periksa  hubungan dioda (+) dan dioda (-), jika salah satu ada hubungan berarti kondisi dioda (Baik)
g.      Periksa Panjang Sikat
Ukur panjang sikat (sesuai sfesikasi pabrik) jika sudah aus, terbakar atau rusak (Ganti baru)
Ø  KERUSAKAN-KERUSAKAN ALTERNATOR
  1. Rotor coil terputus/terbakar
  2. Stator coil terputus/terbakar
  3. Dioda telah putus/terbakar
  4. Regulator coil rusak/terbakar
  5. Brush dan brush holder putus
  6. Bearing aus/rusak